Hello,Welcome to:

Buku Sejagat

Bantu Hadapi Permasalahanmu Temukan Potensi dirimu Mendorongmu Berani Berinovasi

Climate Change For Economic - Adrine Baskara


ANDA TAK HARUS PERCAYA BAHWA PERTUMBUHAN EKONOMI ADALAH ilusi yang dihasilkan pembakaran bahan bakar fosil untuk mengkhawatirkan bahwa perubahan iklim mengancamnya kenyataannya, gagasan itu membentuk landasan bagi sejumlah kepustakaan akademis selama satu dasawarsa ke belakang. Riset paling menarik mengenai ekonomi pemanasan global berasal dari Solomon Hsiang, Marshall Burke, dan Edward Miguel, yang bukan ahli sejarah kapitalisme fosil namun menawarkan beberapa analisis suram: di suatu negara yang sudah relatif hangat, tiap derajat Celsius pemanasan mengurangi per tumbuhan ekonomi rata-rata sekitar satu persen (angka yang besar sekali, mengingat kita menganggap pertumbuhan satu digit rendah. saja sudah "kuat"). Itulah satu penelitian penting di bidangnya. Di bandingkan jalur pertumbuhan ekonomi tanpa perubahan iklim, pro yeksi rata-ratanya adalah 23 persen kehilangan pendapatan per kapita global pada akhir abad ini.


Penelusuran bentuk kurva probabilitasnya bahkan lebih menge rikan. Penelitian itu menyatakan bahwa ada peluang 51 persen per ubahan iklim akan mengurangi keluaran ekonomi global di atas 20 persen pada 2100, dibanding dunia tanpa pemanasan, dan ada pe luang 12 persen pemanasan global menurunkan PDB per kapita 50 persen atau lebih bila emisi tak diturunkan. Sebagai perbandingan, Depresi Besar diperkirakan menurunkan PDB global sekitar 15 per sen-angka-angkanya tidak sebagus itu dulu. Resesi Besar baru-baru ini menurunkan PDB global sekitar 2 persen dalam satu guncangan, Hsiang dan kolega-koleganya memperkirakan ada peluang ding delapan terjadi efek yang terus berlangsung dan tak bisa balik satu ban pada 2100 yang dua puluh lima kali lebih buruk. Pada 2018, tim yang dipimpin Thomas Stoerk menunjukkan bahwa perkiraan itu mungkin terlalu rendah.

Skala kehancuran ekonominya sukar dibayangkan. Bahkan di ne gara-negara kaya pascaindustri di Barat, di mana indikator-indikator ekonomi seperti angka pengangguran dan pertumbuhan PDB beredar seolah mengandung seluruh makna kehidupan, kehancuran agak sukar dicerna; kita sudah terbiasa dengan kestabilan ekonomi dan pertum buhan andal sehingga keseluruhan kisaran kemungkinan, dari kon traksi ekonomi sekitar 15 persen yang efeknya masih kita pelajari di sejarah Depresi, sampai pertumbuhan sekitar setengahnya-kira-kira 7 persen, yang dicapai seluruh dunia terakhir kali pada masa kemaju an global awal 1960-an. Itu puncak dan lembah yang hanya berlang sung beberapa tahun, dan biasanya kita mengukur fluktuasi ekonomi dengan hitungan desimal-2,9 tahun ini, 2,7 tahun itu. Perubahan iklim bisa menyebabkan kemunduran ekonomi dalam kategori yang sepenuhnya berbeda.

Kerusakan per negara barangkali lebih menggelisahkan. Ada tem pat-tempat yang mendapat keuntungan, di utara, di mana suhu le bih hangat bisa mendukung pertanian dan produktivitas ekonomi: Kanada, Rusia, Skandinavia, Tanah Hijau. Namun di lintang mene ngah, negara-negara tempat sebagian besar kegiatan ekonomi dunia Amerika Serikat, Tiongkok-kehilangan hampir separuh potensi ke luaran ekonomi. Pemanasan dekat khatulistiwa lebih parah, dengan kerugian di seantero Afrika, dari Meksiko sampai Brasil, serta di India dan Asia Tenggara mencapai 100 persen. Satu penelitian menyatakan bahwa India saja bakal menanggung seperempat kesengsaraan eko nomi dunia akibat perubahan iklim. Pada 2018, Bank Dunia memper kirakan bahwa jalur emisi karbon sekarang bakal memerosotkan kon disi hidup 800 juta orang yang hidup di seluruh Asia selatan. Katanya seratus juta orang akan terjerumus kemiskinan ekstrem akibat per ubahan iklim dalam dasawarsa mendatang. Barangkali "kembali ke" adalah istilah yang lebih pas: banyak orang yang paling rentan adalah mereka yang baru saja keluar dari kemiskinan dan hidup pas-pasan, melalui pertumbuhan negara berkembang yang didorong industriali sasi dan bahan bakar fosil.

Dan untuk membantu menahan atau mengatasi dampak-dam paknya, kita tak punya New Deal atau Marshall Plan. Pengurangan sumber daya ekonomi global bakal permanen, dan karena permanen, kita bakal tak menganggapnya keadaan sulit, hanya sebagai keadaan normal kejam dan brutal di mana kita mengukur pertumbuhan kecil sebagai napas kemakmuran baru. Kita sudah terbiasa menghadapi ke munduran dalam gerak maju menelusuri sejarah ekonomi, tapi kita tahu bahwa itu kemunduran sementara dan mengharapkan pemulihan dengan cepat. Perubahan iklim bukan berpengaruh seperti itu-bu kan Resesi Besar atau Depresi Besar, melainkan Sekarat Besar di bi dang ekonomi.

BAGAIMANA ITU DAPAT TERJADI? JAWABANNYA SEBAGIAN ADA DI BAB bab terdahulu bencana alam, banjir, krisis kesehatan masyarakat. Se mua itu bukan hanya tragedi melainkan juga berbiaya mahal, dan mu lai bertumpukan dengan laju tak terduga. Ada beban bagi pertanian: tiga juta lebih orang Amerika bekerja di dua juta lebih tanah pertani an; jika panen menurun sampai 40 persen, margin keuntungan akan turun juga, dan di banyak kasus hilang sama sekali, pertanian kecil, koperasi, bahkan kerajaan agribisnis tenggelam dan menenggelamkan semua yang memiliki dan menggarap ladang-ladang kering dalam utang, banyak di antaranya yang cukup tua untuk mengingat masa kejayaan ladang-ladang itu. Kemudian ada banjir: 2,4 juta rumah dan perusahaan Amerika, bernilai di atas $1 triliun, akan menderita ban jir kronis pada 2100, menurut satu penelitian Union of Concerned Scientists tahun 2018. Empat belas persen properti di Miami Beach dapat kebanjiran pada 2045. Itu baru di Amerika, meski tak hanya di Florida selatan; kenyataannya, selama beberapa dasawarsa ke depan, dampak di bidang properti di New Jersey saja mencapai hampir $30 miliar.

Panas berdampak langsung bagi pertumbuhan, sebagaimana ter hadap kesehatan. Beberapa efeknya kita sudah bisa lihat-contoh, rel kereta melengkung atau penerbangan batal karena suhu tinggi menghilangkan aerodinamika yang memperkenankan pesawat terbang le pas landas, yang sekarang lazim di bandar udara yang panas seperti Phoenix. (Tiap tiket pesawat terbang pulang pergi dari New York ke London membuat Artika kehilangan tiga meter persegi es, ingat.) Dari Swiss sampai Finlandia, gelombang panas telah membuat pem bangkit listrik diberhentikan operasinya karena cairan pendingin su dah terlalu panas untuk mendinginkan. Dan di India, pada 2012, 670 juta orang tak mendapat listrik ketika jaringan listrik negara itu dibe bani para petani yang berusaha mengairi lahan tanpa bantuan musim hujan yang tak terjadi. Di semua proyek kecuali yang paling mente reng di semua bagian dunia kecuali yang paling kaya, infrastruktur planet ini tidak dibangun untuk menghadapi perubahan iklim, artinya kelemahan ada di mana-mana.

Efek lain yang tak segamblang itu juga kelihatan-contohnya, pro duktivitas. Selama beberapa dasawarsa belakangan, para ahli ekonomi telah bertanya-tanya mengapa revolusi komputer dan internet tidak menghasilkan kenaikan produktivitas bermakna bagi negara-negara industri. Spreadsheet, perangkat lunak manajemen data, surat elektro nik inovasi-inovasi itu saja kiranya tampak menjanjikan kenaikan besar efisiensi bagi bisnis atau ekonomi apa pun yang menggunakan nya. Namun kenaikan itu tidak muncul; nyatanya, periode ekonomi ketika inovasi-inovasi itu muncul, bersama ribuan efisiensi berbasis komputer lain, berciri stagnasi gaji dan produktivitas serta pertum buhan ekonomi terhambat, terutama di Barat yang maju. Satu ke mungkinan penyebab: komputer sudah membuat kita lebih efisien dan produktif, tapi pada waktu yang sama perubahan iklim sudah berefek sebaliknya, mengurangi atau meniadakan sama sekali dampak teknologi. Bagaimana bisa? Satu teori menyatakan efek negatif panas dan pencemaran udara terhadap kognisi, keduanya makin lama makin diperkuat hasil riset. Dan entah teori itu benar atau tidak benar dalam menjelaskan stagnasi besar beberapa dasawarsa belakangan, kita tahu bahwa di seluruh dunia suhu yang lebih hangat memang mengurangi produktivitas pekerja.

Pernyataan barusan tampak tak terbayangkan sekaligus intuitif,ka rena di satu sisi Anda tak membayangkan kenaikan suhu sedikit baka mengubah ekonomi secara keseluruhan menjadi pasar mayat hidup. dan karena di sisi lain Anda sendiri pasti sudah pernah bekerja keras pada hari yang panas dengan AC mati dan mengerti betapa beratnya itu. Gambaran besarnya lebih sukar dicerna, setidaknya pada awal nya. Boleh jadi kedengarannya seperti determinisme geografis, tapi Hsiang, Burke, dan Miguel telah mengidentifikasi suhu rata-rata t hunan optimal untuk produktivitas ekonomi: 13 derajat Celsius, yang kebetulan merupakan suhu median sejak lama di Amerika Serikat dan beberapa ekonomi terbesar dunia lainnya. Hari ini, suhu rata-rata As sekitar 13,4 derajat, berarti terjadi pengurangan PDB di bawah 1 per sen-walau efeknya makin lama makin besar. Tentu saja, selagi negara itu menghangat selama beberapa dasawarsa, daerah-daerah tertentu mengalami kenaikan suhu, sebagian dari tingkat di bawah optimal mendekati keadaan ideal secara iklim. Kawasan San Francisco Bay Area, contohnya, sekarang nyaman di 13 derajat.

Itulah artinya pernyataan bahwa perubahan iklim adalah krisis yang meliputi segala, menyentuh semua aspek kehidupan kita di pla net ini sekarang. Namun penderitaan dunia akan tersebar tak merata sebagaimana keuntungannya, dengan kesenjangan besar antara dan di dalam negara-negara. Negara-negara yang sudah panas seperti India dan Pakistan akan paling rugi; di dalam Amerika Serikat, kerugian terbesar diderita kawasan Selatan dan Midwest, beberapa bagiannya dapat kehilangan sampai 20 persen pendapatan.

Secara keseluruhan, walau akan dihajar keras dampak iklim, Amerika Serikat termasuk yang paling siap menghadapinya-keka yaan dan geografi menjadi alasan Amerika baru sekarang merasakan efek perubahan iklim yang sudah menyakiti bagian-bagian dunia yang lebih panas dan miskin. Namun karena yang dipertaruhkan banyak sekali, dan sebagian karena pembangunan sangat agresif di garis pan tainya yang panjang, AS lebih rentan terhadap dampak iklim daripada negara mana pun di dunia kecuali India, dan kesusahan ekonominya tak akan terhenti di perbatasan. Dalam dunia dengan globalisasi, ada sesuatu yang Zhang Zhengtao dan kawan-kawan sebut "efek riak eko nomi" (economic ripple effect). Mereka juga telah menghitungnya, dan mendapati bahwa dampaknya makin besar seiring pemanasan. Di ke naikan satu derajat Celsius, dengan penurunan PDB AS 0,88 persen, PDB sedunia bakal turun 0,12 persen, kerugian Amerika merembet ke seluruh dunia. Dengan kenaikan dua derajat, efek riak ekonomi berlipat tiga, walau efeknya berlangsung berbeda-beda di berbagai ba gian dunia; dibanding dampak kerugian Amerika pada satu derajat, di dua derajat efek riak ekonomi di Tiongkok bakal 4,5 kali lebih besar. Gelombang kejut yang menyebar dari negara-negara lain lebih kecil karena ekonominya lebih kecil, tapi gelombang itu akan datang dari hampir semua negara di dunia, seperti sinyal radio yang dipan carkan banyak antena, masing-masing menyampaikan kesengsaraan ekonomi.

Entah baik atau buruk, di negara-negara maju Barat kami telah menetapkan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran ter baik kesehatan masyarakat, meski tak sempurna. Tentu saja, dengan ukuran itu, perubahan iklim bisa diukur dampaknya dengan keba karan dan kekeringan dan kelaparan, dampaknya besar sekali. Biaya nya sudah melangit, satu badai saja menimbulkan kerugian ratusan miliar dolar. Andai planet ini memanas 3,7 derajat, seperti menurut satu perkiraan, kerusakan akibat perubahan iklim dapat bernilai total $551 triliun hampir dua kali lipat seluruh kekayaan yang ada di du nia sekarang. Kita menuju pemanasan yang lebih tinggi lagi.

Selama beberapa dasawarsa belakangan, konsensus kebijakan telah memperingatkan bahwa dunia hanya bakal menoleransi tanggapan terhadap perubahan iklim jika tanggapannya gratis-atau lebih baik lagi, dapat disajikan sebagai kesempatan ekonomi. Logika pasar itu barangkali selalu rabun jauh, tapi selama beberapa tahun ini, selagi biaya adaptasi dalam bentuk energi hijau telah turun drastis, rungannya berbalik: sekarang kita tahu akan jauh lebih mahal untuk tidak bertindak menangani iklim dibanding melakukan bahkan fin dakan paling agresif sekarang. Jika Anda tak memikirkan harga saham atau obligasi pemerintah sebagai batas yang tak bisa dilewati terhadap keuntungan yang akan diterima, maka barangkali Anda juga jangan berpikir bahwa adaptasi iklim itu mahal. Pada 2018, satu makalah menghitung biaya global transisi energi secara cepat, pada 2030, ada lah negatif $26 triliun-dengan kata lain, membangun kembali infra struktur energi dunia bakal menghasilkan uang sebanyak itu, diban ding tak mengubah sistem, dalam hanya selusin tahun.

Tiap hari yang kita lalui tanpa bertindak, biaya-biaya itu numpuk, dan jumlahnya berlipat ganda. Hsiang, Burke, dan Miguel mendapat angka 50 persen dari kemungkinan tertinggi-benar-benar skenario terburuk untuk pertumbuhan ekonomi di bawah perubahan iklim. Namun pada 2018, Burke dan beberapa kolega lain mempubli kasikan makalah penting yang meneliti konsekuensi beberapa skena rio yang lebih dekat ke keadaan kita sekarang terhadap pertumbuhan. Di dalamnya, mereka mempertimbangkan satu skenario yang masuk akal tapi masih cukup optimistis, di mana dunia memenuhi komit men Perjanjian Paris, membatasi pemanasan ke antara 2,5 sampai 3 derajat. Itu barangkali skenario pemanasan terbaik yang bisa kita perkirakan dengan wajar; di seluruh dunia, dibanding dengan dunia tanpa pemanasan tambahan, bakal terjadi pengurangan keluaran eko nomi per kapita antara 15 sampai 25 persen pada akhir abad, menurut perkiraan Burke dan kolega-koleganya. Kalau pemanasan mencapai empat derajat, yang berada di ujung rendah kisaran pemanasan yang disiratkan jalur emisi sekarang, keluaran ekonomi berkurang 30 per sen atau lebih. Itu dasar jurang yang dua kali lebih dalam dibanding yang dialami kakek-nenek kita pada 1930-an, dan turut menghasil kan suatu gelombang fasisme, otoriterianisme, dan genosida. Namun kita hanya bisa menyebutnya dasar jurang bila sudah memanjat keluar dan memandanginya dari puncak baru dengan lega. Boleh jadi tidak ada pemulihan dari kerusakan akibat iklim, dan walaupun akan ada segelintir yang mendapat keuntungan, seperti di segala kehancuran, pengalaman sebagian besar orang boleh jadi lebih mirip petambang yang terkubur permanen di dasar tambang. 

Terimakasih telah mengunjungi web kami, bila tertarik untuk memiliki buku yang kamu inginkan kamu bisa hubungi ke Contact person atau chat sosial media kami.

0 Comments:

Posting Komentar

Buku Sejagat
(+62)856 0489 5674
Indonesia

SEND ME A MESSAGE